Selamat datang di Blog kami

Ditulis oleh Patricia Cindy, Kevin Wijaya, Eric Febrian, Stevanus Kevin, Richard Sukhita





web widgets

.

.

Salam Super!

Kami kelompok Bahasa Persatuan dari
Universitas Multimedia Nusantara
yang sedang mengikuti lomba Blog Bahasa Indonesia

Rekap Pertemuan II Bahasa Indonesia: Lomba Berbahasa

Senin, 03 Maret 2014

Halo kawan-kawan Bahasa Persatuan! Apakah kalian kangen dengan kami dan cerita seputar Pak Ote?

Kali ini saya akan menceritakan acara seru yang Pak Ote adakan di pertemuan kedua perkuliahan Bahasa Indonesia kami, yaitu kuis berbahasa dan tebak gambar (yang sebenarnya juga masih tentang berbahasa). Untuk aktivitas-aktivitas kelas seperti ini, kelas kami dibagi menjadi delapan kelompok. Mumpung belum diceritakan siapa pemenangnya, coba kalian tebak kelompok mana yang keluar sebagai juara. Penebak yang benar berhak menerima cendol.

Biaya pembelian ditanggung pemenang.




Peraturan untuk kuis berbahasa ronde pertama ini sangat sederhana. Kelompok yang sedang maju ke depan kelas diminta mengambil empat pilihan dari lima puluh kalimat salah yang berada di tabel pada buku cetak kami, kemudian membenarkan kalimat-kalimat itu. Kalimat yang sudah dipilih kelompok lain tidak dapat dipilih lagi. Setelah membenarkan kalimat-kalimat tersebut, Pak Ote akan memberikan penilaian, dan jika nilainya tidak sempurna, kelompok-kelompok lain dipersilakan menunjuk tangan untuk membenarkan kalimat yang masih kurang sempurna. Jika jawaban mereka benar, mendapat poin 100, dan jika salah mendapat minus 50. Terakhir, selama kedua ronde kuis, semua mahasiswa dilarang menggunakan kata "nggak" dan "terus." Sanksinya adalah pengurangan poin dan jawaban yang sedang diusahakan pada saat berbicara dianulir.

Kelompok kami maju pada urutan ke-2 dan saya menjadi juru bicaranya. Sangat disesalkan, ada satu dari empat kalimat kami yang saya sudah tahu bentuk benarnya, namun saya kurang detil dalam menjelaskan pembenarannya, sehingga kami hanya mendapat skor 270 dari maksimal 400. Kami pun berusaha membenarkan jawaban-jawaban dari kelompok lain yang masih kurang sempurna dengan gencar. Jika saya tidak salah ingat, kelompok kami merupakan yang paling banyak melakukan pembenaran, hanya saja tidak semuanya benar, sehingga pada akhirnya poin plus dan minus itu saling meniadakan hingga nilai kami tidak banyak berubah.

Rasanya seperti rumah kartu yang sudah Anda bangun kini runtuh.


Ronde kedua dari kuis ini jauh lebih menarik. Ronde ini dinamakan Kuis Bahasa Gambar (atau sesuatu semacam itu, saya agak lupa judulnya). Pak Ote akan menunjukkan slide show berisi foto-foto yang memiliki kesalahan berbahasa, kemudian para mahasiswa adu cepat mengangkat tangan untuk kesempatan membenarkan. Jawaban benar mendapat skor 100 sementara jawaban salah -50. Kata-kata yang menjadi ranjau, yaitu "nggak" dan "terus" masih dilarang.

Ronde ini berlangsung lama. Jika saya tidak salah ingat, ada sekitar sembilan puluh slide, meski ada beberapa yang dilewati. Yang menarik dari ronde ini ialah banyaknya kesalahan penulisan nama perusahaan (contoh: PT Kera Sakti) dan penulisan nilai mata uang rupiah (contoh: Rp500.000,00). Di ronde pertama, masih banyak mahasiswa yang salah dalam membenarkan kedua kesalahan tipikal ini, namun setelah mengetahui versi benarnya, kami berlomba-lomba menjawab kedua kesalahan ini di ronde kedua, karena semua orang sudah hafal dan kesalahan ini muncul berulang-ulang.

Peraturan yang benar: kata "PT" tidak diikuti tanda titik (.).
Penulisan harga yang benar: "Rp" tidak diikuti titik dan spasi. 
Di belakang harga ditambahkan (,00) bukan (,-).


Beberapa highlight momen-momen yang berkesan bagi saya:
  • Ketika ada foto surat yang bertuliskan "subyek," Eric mengangkat tangan, bersiap membenarkan menjadi "subjek." Namun, mungkin karena gugup atau apa, yang keluar adalah "subject" (dibaca dalam Bahasa Inggris). Bahkan setelah Pak Ote memberikan nilai minus pun dia masih tidak sadar, sepertinya memang benar-benar tidak sengaja salah bicara. 
  • Foto tukang ketoprak yang gerobaknya bertuliskan KETOFRAX. Langsung instan menjadi meme lokal.
Di ronde kedua ini, kami makin gencar menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada, terutama saya (bukan bermaksud sombong lho, hehehe). Bahkan sebelum mendekati akhir-akhir permainan pun kolom skor kami sudah mencapai dua kolom, sementara kelompok lain masih satu kolom. Menurut saya, kunci utama dari permainan ini adalah keberanian, ketangkasan, ketelitian, kejujuran, dan tanggung jawab. Tanggung jawab karena sesama anggota kelompok dilarang saling membantu. Jika sudah berani angkat tangan, harus berani bertanggung jawab memberi jawaban bagi kelompok.

Sayangnya, meski kami banyak menjawab, ternyata keadaan berubah di akhir-akhir permainan. Kok bisa? Sebenarnya tidak kok, saya cuma bercanda.


Akhirnya kelompok Bahasa Persatuan memenangkan pertandingan dengan skor 1.620. Kami cukup puas dengan hasil yang didapatkan, karena jaraknya lumayan jauh di depan kelompok lain. Yang juara dua saja hanya memiliki skor 900-an, sementara juara 3-nya memiliki skor 800-an. Biar begitu, Kelompok 8 yang menjadi juara dua juga perlu diacungi jempol, karena mereka bisa menyusul kelompok-kelompok lain dan menjadi juara dua, padahal di akhir ronde pertama mereka memiliki skor paling kecil. 

Ngomong-ngomong tentang Kelompok 8 yang menjadi juara dua, salah satu anggotanya, Michael Gunawan berasal dari SMA yang sama dengan saya. Guru Bahasa Indonesia di SMA kami, Regina Pacis Jakarta, memang terkenal killer dan grammar nazi. Namun Beliau juga merupakan guru yang luar biasa dan sangat bijaksana. Mungkin berkat Beliau lah kami bisa menjadi juara, hehehe.

Dengan kuis ini, kelompok Bahasa Persatuan tiap anggotanya menerima dua jantung hati, sementara juara dua dan tiga tiap anggotanya menerima sebuah jantung hati. Dengan ini kami semakin dekat ke target dua puluh jantung hati dari Pak Ote. 

Kira-kira begitulah rekap perlombaan di pertemuan kedua kemarin. Terima kasih atas waktunya, dan nantikan terus petualangan kami di mata kuliah Bahasa Indonesia.


Oleh Kevin Wijaya 12120210322

0 komentar:

Posting Komentar